Revolusi Mental Keuangan

Standar

uangMinggu, 5 April 2015 | 19:00 WIB
Oleh Elvyn G Masassya
KOMPAS.com – Istilah revolusi mental tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Istilah ini dipopulerkan Presiden Joko Widodo saat berkampanye sebagai calon presiden. Lalu, bagaimana kaitannya revolusi mental dengan keuangan? Apakah memang ada revolusi mental keuangan?
Hampir semua orang ingin kehidupan finansialnya berkecukupan. Ingin asetnya banyak.
Ingin uangnya berlimpah. Namun, tidak semua orang mampu mencapai semua itu. Yang ada hanya sebatas keinginan.
Ada yang ”bermasalah” ketika hendak mengeksekusi keinginan tersebut. Namun, ada yang sudah ”bermasalah” sejak ketika masih memiliki keinginan. Dan di sinilah seharusnya revolusi mental keuangan dimulai.

Keinginan

Tentang keinginan, sejatinya harus ada ”pengelolaan keinginan”. Artinya, keinginan bukan harus semuanya dipenuhi, tetapi diseleksi lebih dahulu mana yang berkategori sebagai kebutuhan dan mana pula yang tergolong keinginan. Persoalan menjadi rumit ketika seseorang menempatkan keinginan di atas kebutuhan.

Jadi, agar tidak rumit, ketika keinginan itu bukan merupakan kebutuhan, sebaiknya dihilangkan dari daftar keinginan. Dengan kata lain, langkah untuk memenuhi target keinginan harus dimulai dengan memenuhi kebutuhan terlebih dahulu. Tidak terbalik-balik. Contohnya, lebih senang membeli pakaian mahal biar kelihatan mentereng ketimbang menabung untuk mencicil rumah. Padahal, rumah merupakan kebutuhan, sementara pakaian mentereng sekadar keinginan belaka.

Selanjutnya, masih dalam ”tata kelola keinginan”, yang diinginkan itu mestilah masuk akal, diberi target kapan akan dicapai dan bagaimana mencapainya. Jika keinginan hanya sebatas keinginan, sama seperti menunggu godot. Tidak akan pernah tercapai.

Lalu apa yang dimaksud dengan keinginan yang masuk akal. Pencapaian keinginan itu mestilah memang secara logika bisa dicapai berdasarkan usaha dan ikhtiar, bukan seperti main lotre atau berjudi. Misalnya, Anda berkeinginan memiliki rumah. Namun, rumah yang diinginkan itu berada dalam kawasan mewah berharga puluhan miliar rupiah, sementara penghasilan Anda hanya dalam hitungan jutaan rupiah. Tentu keinginan semacam itu tidak masuk akal. Kendati Anda meminjam dari bank untuk membeli rumah tersebut, kecil kemungkinan bank akan memberikan pinjaman karena kapasitas keuangan Anda tidak cocok untuk bisa mengembalikan pinjaman itu.

Berikutnya adalah perihal target mencapai keinginan. Tidak ada yang namanya pencapaian dalam waktu singkat, apalagi jika keinginan tersebut membutuhkan biaya besar. Kembali ke contoh keinginan memiliki rumah sebagaimana dipaparkan di atas. Jika hendak membeli secara tunai, Anda mesti mengumpulkan uang dalam kurun waktu yang sangat lama. Dan bisa saja ketika uang sudah terkumpul, di sisi lain harga rumah sudah melambung tinggi.

Namun, kalau Anda hendak membeli rumah dengan pinjaman bank, tentu juga mesti diukur kapan pinjaman itu akan lunas. Ukurannya adalah semakin cepat lunas semakin baik. Namun, jika kemampuan keuangan terbatas, kurun waktu terlama adalah sepanjang Anda belum memasuki usia pensiun, rumah sudah harus menjadi milik Anda dan pinjaman ke bank sudah dilunasi.

Hal-hal yang dipaparkan di atas merupakan contoh bagaimana melakukan revolusi mental keuangan di tataran ”keinginan”. Namun, lebih dari itu, yang lebih penting adalah bagaimana menafsirkan uang itu sendiri. Banyak sekali kalangan, memiliki paradigma bahwa uang banyak atau aset besar merupakan tujuan. Jadi, mereka mencoba melakukan segala cara agar uang bisa terkumpul.

Ironisnya, kerap kali terjadi, setelah uang terkumpul, malah yang bersangkutan tidak bisa menikmatinya. Jadi, memiliki uang dan aset banyak tanpa bisa menikmati adalah kekonyolan. Oleh karena itu, mengubah paradigma bahwa uang bukanlah tujuan juga merupakan revolusi mental keuangan. Artinya, uang mesti dimaknai sebagai ”alat” untuk mencapai tujuan hidup, yakni ketenangan, kenyamanan, dan kebahagiaan. Dengan kata lain, aset yang dicari mestilah sebatas memenuhi kebutuhan hidup. Bukan tanpa batas. Kalaupun uang itu melebihi kebutuhan Anda, kehidupan Anda akan bernilai jika uang atau aset yang Anda miliki bisa juga dinikmati orang-orang lain. Dengan kata lain, tujuan memiliki aset banyak adalah memberi manfaat kepada banyak orang.

Revolusi mental keuangan lain adalah mengubah paradigma bahwa kekayaan bisa diraih hanya dengan mengumpulkan pendapatan. Artinya, jika Anda bekerja dan memperoleh gaji dan kemudian gaji itu disisihkan untuk ditabung, pada suatu ketika aset Anda akan bertambah. Itu benar. Namun, tidak sepenuhnya benar. Kenapa? Karena dana yang disisihkan dan kemudian ditabung tidak termasuk dalam kategori produktif. Bunga tabungan bank yang Anda terima tidak lebih besar dari laju inflasi atau malah bisa lebih rendah. Dengan kata lain, akumulasi uang yang Anda miliki tidak akan memiliki daya beli sebesar sekarang.

Oleh karena itu, jika Anda ingin mendapatkan aset besar di kemudian hari, salah satu caranya adalah dengan membuat uang Anda produktif dan bertumbuh melebihi laju inflasi. Itulah yang disebut dengan investasi. Jadi, revolusi mental keuangan prinsipnya adalah mengubah paradigma tentang keuangan, yang dimulai dari tata kelola keinginan dan juga cara mencapai tujuan keuangan itu sendiri. Selamat mencoba.
________________________________________
Editor : Erlangga Djumena
Sumber : Harian Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s