INSPIRING

Standar

warenAk-Sar-Ben (ejaannya memang begini) adalah nama sebuah arena pacuan kuda di AS.
Tentang nama yang rada aneh ini, arek Malang akan lebih dulu tahu lantaran mereka
terbiasa dengan bahasa ‘walik-an’, membaca dari arah sebaliknya. Ak-Sar-Ben memang
terletak di negara bagian Nebraska.
Tersebutlah seorang anak yang sering menyusuri lantai penuh serbuk gergaji di pacuan
kuda ini untuk mencari tiket yang tak sengaja terbuang. Diperiksanya satu persatu angka-
angka yang tertera pada tiket.

Jika ia beruntung ia akan mendapatkan tiket yang cocok
dengan nomor kuda pemenang, yang artinya ia akan mendapatkan uang.

Area lain tempat anak itu mencari uang adalah lapangan golf. Ia mengumpulkan bola-bola
bekas, dikelompokkan sesuai merek dan kondisinya, dikemas dan dijual. “Bisnis”nya ini
berjalan dengan baik sampai bocah ini mampu mendirikan stand penjualan bola golf di taman.
Anak inipun menggerakkan orang-orang sekampungnya untuk mencari bola untuk kemudian
dia beli. Sayangnya, ada seseorang yang melaporkan kepada toko penjual bola yang ‘asli’,
sehingga stand milik bocah ini dibubarkan.

Sebenarnya, anak ini sudah mulai ‘berbisnis’ sejak usia 5 tahun dengan menjual minuman
lemon dan permen karet. Dia memilih tempat membuka lapak di depan rumah teman mainnya,
tidak di depan rumahnya. Alasannya jalan di depan rumah kawannya itu lebih banyak dilalui
orang ketimbang depan rumahnya.

Dia juga pernah melakukan ‘survey pasar’ dengan cara mengumpulkan tutup botol minuman
yang tercecer di sekitar mesin otomat minuman di pompa bensin. Tutup botol itu ia kelompokkan
sesuai mereknya, sehingga dia tahu minuman apa yang paling banyak dibeli orang.

Masih banyak usaha lain mencari uang yang dilakoni sang bocah ini hingga ia memasuki masa
remaja. Menjadi loper koran dan seluruh hasilnya ia tabung untuk kemudian ia belikan lahan
pertanian seluas belasan hektar. Membeli mesin pinball bekas, diperbaiki oleh kawannya
yang ahli mesin, kemudian dia tempatkan di barber shop.

Ketika tamat SMA ayahnya menyarankan untuk kuliah di Universitas Pennsylvania jurusan
Finance and Comerce di Wharton. Tapi ia menolak. Kuliah baginya akan sia-sia, alasannya,
ia telah berhasil mengumpulkan uang 5.000 dollar dari mengantarkan 600 ribu lembar Koran.
Juga dari koin mesin pinball serta uang sewa dari petani penggarap. Lagipula, sampai
menyelesaikan SMA ia telah membaca seratus lebih buku tentang bisnis. Untuk apa kuliah,
pikirnya. Tapi ayahnya memaksa dan akhirnya ia mengalah.

Baru beberapa bulan kuliah, dengan kesal ia melapor kepada ayahnya bahwa pengetahuannya
justru lebih banyak dibanding pengetahuan dosen-dosennya. Memang dosen-dosennya punya
teori-teori yang bagus, tapi mereka tidak menguasai detil-detil praktis untuk mencari laba yang
sangat didambakannya.

Anak ini telah menentukan “jalan hidup”nya sendiri sewaktu ia berusia 11 tahun. Ketika itu dia
membeli 3 lembar ‘tanda kepemilikan’ Cities Service seharga 38 dollar per lembar. Tapi harga
Cities Service kemudian anjlok sampai 27 per lembar. Anak ini tetap memegangnya sampai
kemudian harganya pulih kembali menjadi 40 per lembar. Dia memutuskan untuk menikmati
keuntungan pertamanya dari bursa, kepemilikan 3 lembar tadi ia jual. Ternyata ini menjadi
pelajaran pertama baginya tentang kesabaran. Cities Services perlahan merangkak naik
sampai mencapai 200 dollar per lembar ! Siapakah anak itu ? Tinggal di kota kecil Omaha,
Nebraska, namanya Warren Buffett.

(dicuplik dari “The Making of an American Capitalist”, Roger Lowenstein, 2009)

Salam,
zar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s