Jeng Siti Mengejar Mimpi (001)

Standar

pak sadono
Tulisan Bapak Sadhono Hadi
Nama lengkapnya Siti Sulastri. Lahir pada saat hingar bingar Revolusi dibawah komando Paduka Yang Mulia Bung Karno. Dengan komando Ganyang Malaysia, pada saat itu seluruh bumi nusantara rasanya bergelora nglurug ke Negara tetangga, siap untuk di terjunkan sebagai sukarelawan.
Siti lahir di sebuah klinik bersalin kecil di kawasan yang saat itu paling diandalkan oleh Bung Karno untuk menyerbu Malaysia, komplek perumahan AURI (sekarang TNI-AU) di lapangan terbang Iswahyudi, Madiun. Ayahnya mas Sugeng, adalah seorang bintara, tentara tulen yang kenyang asam garamnya revolusi kemerdekaan, ia dahulu berjuang di sekitar Jogjakarta.

Siti lahir di tengah raungan pesawat-pesawat tempur Mig yang setiap hari tiada hentinya melesat ke-udara mengawal perbatasan utara negri yang saat itu sedang berperang dalam komando Dwikora. Kadang pesawat tempur buatan Rusia itu, ditugasi mengawal pesawat pengangkut yang terbang diam-diam dalam keheningan malam, membawa para sukarelawan untuk tugas gerilya di hutan ganas Kalimantan Utara.
Mas Sugeng, sesungguhnya tidak terlalu bahagia menyambut kehadiran putrinya yang ke-tiga ini. Ingin rasanya ia memiliki anak laki-laki yang kelak bisa menggantikan atau bahkan melebihi ayahnya menjadi taruna Akademi Angkatan Udara. Cita-citanya memiliki anak penerbang pesawat tempur, dengan postur yang tinggi besar seperti dia sendiri dan dengan dibalut oleh seragam pilot yang berwarna jingga menyala.
Apaboleh buat, sudah takdir, setelah kedua anaknya semua perempuan, Gusti Allah masih juga memberikan momongan perempuan lagi.
– Yah, semoga mantuku kelak ada yang jadi penerbang, ia mbatin sambil pasrah.
Kelahiran Siti tidak terlalu mulus. Ibunya mengalami pendarahan hebat yang nyaris merenggut nyawanya sendiri. Dokter yang segera dipanggil segera menangani kelahiran yang berat ini. Mas Sugeng dengan setia menunggu dalam diam di luar kamar bersalin. Pikirannya jauh menerawang ke masa-masa lalu, ingat bahwa ia pernah memiliki momongan laki-laki. Anak laki-laki tempat ia melampiaskan semua kasih-sayangnya itu tidak sempat berumur satu tahun, sakit dan dipanggil kepangkuan-Nya kembali.
Sekalipun hatinya bergemuruh, khawatir ditinggalkan istrinya yang sedang kritis, namun karena pengaruh suami Jawa yang pandai menyimpan perasaan serta tempaan sikap militernya yang keras, perasaan yang cemasnya, sama sekali tidak muncul pada raut mukanya. Ia hanya diam dengan pandangan yang jauh lurus ke depan. Ia kemudian menarik nafas lega, ketika krisis akhirnya berlalu dan juru-rawat mempersilahkannya untuk menengok sang bayi dan ibunya.
Siti sendiri sangat sehat. Tangisnya keras, hentakannya kuat. Mas Sugeng, tanpa sadar mengecek kembali kelamin bayinya, apakah ini bukan bayi laki-laki? Kembali ia harus ikhlas, bayinya memang bayi perempuan yang sehat.
Si mungil Siti, tidak setiap hari ditunggui ayahnya. Korps Polisi Militer, satuan dimana mas Sugeng berdinas saat itu sangat sibuk. Situasi Madiun saat itu entah mengapa banyak sekali pawai dari organisasi atau partai dengan masanya yang jor-joran, setiap partai berusaha mengerahkan sebanyak-banyaknya peserta pawai. Barisan masa ini selalu berbaris melewati pinggiran komplek militer dengan yel-yelnya yang ramai, bahkan menjurus ke panas menghasut.
Mas Sugeng sering bertugas keluar kota, bahkan ke seberang dalam waktu berhari-hari meninggalkan keluarganya. Tinggallah mbakyu Sugeng sendiri menjaga ketiga anaknya. Beruntung, anaknya yang sulung, yang sudah berumur 13 tahun, sudah bisa membantu ibunya sedikit-sedikit, didapur maupun ikut mengasuh adiknya. Entah mengapa, saat tidak ada suaminya, sekalipun tinggal di kompleks tentara, hatinya tidak terlalu nyaman bila ada pawai masa melintas di jalan besar yang tidak jauh dari rumahnya itu. Ia memilih bersembunyi sambil meraih anak bungsunya yang masih merah. Tapi, anak yang sulung dan adiknya, bila mendengar suara drum-band, malah berlari mendekati pagar kompleks, menonton pawai.
(Bersambung)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s