BANJARAN GATUTKOCO

Standar

images (1)(copy kiriman Ibu Koesmarihati : banjaran = biografi , kisah dari lahir sampai almarhum)>>
Sekipu , patih kerajaan Gilingwesi, berdiri tegak di depan gerbang Repat Kepanasan. Matanya memandang tajam , Istana Kahyangan Jonggring salaka yang dibangun diatas puncak gunung karang.
Bangunan benteng yang mengelilingi Istana itu kokoh kuat , yang dibuat dari batu padas berwarna hitam.
Sesuai namanya , Repat Kepanasan adalah padang pasir gersang yang sangat panas, yang merupakan batas dengan karang terjal dimana Kahyangan Jonggring salaka berada.
Tubuh raksasa itu berkeringat , kulitnya yang hitam mengkilat lebih mirip dengan warna benteng yang menjulang tinggi kelangit.

Dibelakangnya, debu mengepul bagaikan ampak2.
Padang pasir itu dipenuhi 10.000 raksasa, yang pacak baris mengepung Kayangan Jonggring salaka.

Sebagian pasukan itu mengendarai gajah raksasa yang buas, sebagian lainnya menuntun binatang buas peliharaannya seperti singa dan srigala raksasa. Sebagian mereka bersenjata kapak, bandil, bola-bola berduri yang diikat dengan rantai, pedang dan penggada berukuran besar.
Raksasa yang berbadan paling besar berkelompok dalam pasukan pendobrak, yang menggunakan alat dobrak dari kayu jati taun yang ukurannya besar sekali. Tugasnya mendobrak pintu gerbang Repat Kepanasan, sehingga pasukan raksasa dapat menembus pertahanan musuh.
Sementara sebagian raksasa yang badannya lebih kecil, yang berasal dari suku Madra yang tak kalah buasnya, bersenjatakan tombak, busur dan anak panah, dipinggang mereka tergantung sebuah pedang bengkok setajam pisau cukur.
Pakaian mereka yang terbuat dari bulu binatang buruan, berwarna coklat dan abu-abu, hiasan kepala yang terbuat dari tanduk, taring dan tengkorak binatang, menunjukkan betapa liarnya pasukan ini.
Dalam formasi gelar perang “ Dirada meta “ pasukan raksasa itu menjadi pembunuh yang produktif.
Serbuannya ke Jonggring salaka pasti akan membuat Kahyangan itu hancur lebur.

Para Dewa berkumpul dibelakang tembok benteng Repat Kepanasan , siap menghadapi serangan pasukan raksasa. Pasukan para Dewa yang jumlahnya lebih besar , telah ditempatkan di puncak2 benteng dan lorong-lorong pertahanan,
Tombak pasukan Kadewatan “ pating crangah , pindho jati ngarang “ . Pasukan panah telah menyiapkan busur , di belakangnya batu-batu besar dan lahar panas, siap di gelontorkan ketika pasukan raksasa naik ke tebing karang.
Pasukan Dewata yang berpakaian serba emas dan perak , menandingi sinar Sang Surya .
Formasi gerbang benteng yang jumlahnya lebih dari seratus , memudahkan pasukan untuk membuat “ manuver “ penyerbuan balasan secara mendadak.
Pimpinan para Dewa yaitu “ tridoso awatak nowo “ ialah tigapuluh Dewa yang di bawahi sembilan dewa utama, yaitu Brahma , Bayu, Indra, Kuwera, Sambu, Dharma, dan Aswin , dewa kembar.
Mereka tegak di posisis masing2. Wajah mereka mengeras , menandakan tekad untuk mempertahankan Kahyangan Jonggringsalaka, hidup atau mati.
Strategi mereka adalah gelar perang “ Gedong mineb “ yang merupakan perangkap bagi pasukan raksasa, begitu mereka memasuki benteng, pasti akan dihujani dengan tombak, panah, batu dan guyuran lahar panas.

Dityakala Sekipu melangkah dengan mantab, dia mengayunkan tangan pertanda serangan pertama harus dilakukan.
Bumi bergetar ketika barisan raksasa itu berlari menyerbu benteng.
Pasukan pendobrak membenturkan alatnya menghantam pintu gerbang Repat Kepanasan dengan kekuatan yang maha dahsyat.
Pasukan pendampingpun bergerak, mereka membawa berbagai alat untuk memanjat benteng, seperti tangga, tali bandil dan alat pelontar. Mereka berteriak , menggeram bagai hewan buas , menyerbu, dan bertekad menembus pertahanan benteng Repat Kepanasan sesegera mungkin.

Perang besar hari pertama pecah.
Raksasa Gilingwesi terus merangsek maju , ternyata banyak dari mereka yang kebal segala jenis senjata.
Hujan panah, tombak, batu dan guyuran lahar panas seolah tak mereka rasakan.
Para dewa terdesak, mereka bertahan habis2an, bahkan satu demi satu korban mulai berjatuhan.
Sekipu, raksasa besar itu bertempur dengan ganas.
Penggada besarnya membunuh banyak prajurit dewa. Tandangnya menarik perhatian Dewa Brahma.
Keduanya segera terlibat pertempuran dahsyat. Senjata kilat, guntur dan semburan naga api tak mempan di tubuh Sekipu. Jangankan hancur, luka sedikitpun tidak.
Bangunan benteng banyak yang hancur. Prajurit Dewa banyak yang tewas.
Sembilan pemimpin Dewa , segera mengerahkan kekuatannya. Usahanya hanya berhasil mengusir pasukan Raksasa keluar benteng, dan segera menutup gerbang Repat Kepanasan rapat2.

Barisan raksasa kembali mengepung diluar benteng.
Sedangkan didalam, para Dewa resah. Pada benturan pertama mereka sudah tak mampu membendung amuk pasukan Gilingwesi. Kesaktian patih Sekipu saja sudah sedemikian dahsyat.
Sementara di tenda megah, tak jauh dari medan perang Repat Kapanasan , Prabu Kala Pracona bergembira , mendengar khabar kemenangan pasukan Gilingwesi. Dipanggilnya para pembesar kerajaan, mereka berpesta pora, kembul bujana andrawina.

Prabu Kala Pracona yakin, permintaannya kepada Dewata untuk “ hidup abadi “ seperti para dewa, akan segera terkabul.

(bersambung)
GATUTKOCO LAHIR 2 (lanjutan)

Kraton Pringgodani dalam suasana muram , ditandai dengan kehadiran seluruh sesepuh Pandawa dan pujangga agung Sri Batara Kresna.
Apakah gerangan yang membuat suasana sedemikian memprihatinkan……….???
Sudah hampir selapan , sejak kelahiran bayi putra Arimbi, yang diberi nama Tetuko , membawa suasana gundah.
Semua senjata sakti milik para Ksatria sudah dicoba untuk memutuskan tali pusat sang jabang bayi. Namun hasilnya nihil. Tak kurang dari kuku Pancanaka Bhima, Pasopati, Bramastra, Nenggala, Alugara, bahkan sampai senjata Cakra milik Kresna-pun tak mampu memisahkan tubuh jabang bayi dengan ari-ari nya.

Syahdan, sinigeg gantos kang cinarito.
Cerita disuatu siang di hutan Kembang sore.

Karna , adipati negri Awangga , merasa perjalanannya dihentikan seseorang.
“ Kakang Adipati Karna , terimalah sembah bakti hamba, dan ma’afkan hamba telah menghentikan langkah paduka “
“ Ooooo……engkau Arjuna “
“ Benar Kanda Adipati “
“ Baiklah aku terima sembah bektimu , dan ada perlu apa , tiba2 engkau menahanku…??”
“ Kanda Adipati, hamba mohon pertolongan Kanda. Perkenankan hamba meminjam pusaka Konta Wijayandanu untuk memotong tali pusar Tetuko, putra Bima “
“ Arjunaaaa……engkau tahu tidak siiiiih…..???……Pusaka Konta Wijayandanu , aku peroleh dengan cara yang tak mudah. Dan ma’afkan aku Arjuna, menurut wangsit para Dewa, senjata Konta ini hanya dapat aku pergunakan “sekali” saja. Sebagai sesama Ksatria yang sudah purna dalam hal mesuraga dan bertapa , apakah engkau tidak memahami hal ini…??? “ Kata Adipati Karna dengan sedikit kesal.
Arjuna diam menunduk.
“ Hamba hanya meminjam Kanda Adipati, hamba tahu Konta Wijayandanu adalah senjata pilihan, namun hamba mohon belaskasih paduka terhadap jabang bayi putra Bima “ Arjuna berkata lirih.
“ Arjuna , tugasku yang terakhir adalah memenangkan Baratayudha. Apapun yang akan terjadi , aku telah terikat sumpah dengan Duryudhana untuk berperang di pihaknya. Sekali lagi Arjuna , untuk kali ini aku tak dapat memenuhi permintaanmu “ Karna menjawab dengan tegas.
“ Kanda Adipati , bila Kanda tidak berkenan, maka ijinkan hamba untuk merebutnya dari tangan Kanda Adipati “ Arjunapun bangkit berdiri.
“ Yaaa , yaaa….Arjuna , apa boleh buat . Ayo yayi , kembarono kridane pun kakang…….!!! “ Adipati Karna-pun bersiap , karena ia tahu persis dengan siapa ia berhadapan.

Hutan menyebar bau harum, ketika kedua Ksatria bertempur. Keduanya sakti mandraguna , sama2 tampan , sama-sama prigel dalam olah kanuragan dan aji jaya kawijayan dan guna kasantikan .
Yang satu putra Batara Surya dan yang satunya putra Batara Indra . Arjuna berusaha merebut , Adipati Karna berusaha mempertahankan Konta Wijayandanu.

Namun sudah menjadi kepastian Dewata, pada saat Karna lengah, Arjuna berhasil memegang ujung senjata Konta . Karna segera menghunus pusaka Kala Dete dan disabetkan kedada Arjuna. Arjuna segera menghindar, sehingga hanya warangka senjata Konta saja yang ada di tangannya.

Merasa lepas dari pegangan Arjuna, Karna segera melompat menjauhi arena.
Tinggallah Arjuna, yang berdiri termangu-mangu.
Ditangannya hanya tergenggam warangka senjata Konta.
Ketika itulah, Sang Narada turun dari Kahyangan Jonggringsalaka.
“ Arjuna…..warangka yang kau pegang, bukan terbikin dari kayu sembarang kayu. Warangka itu tebuat dari Kayu Mastaba , pohon kadewatan yang berusia ribuan tahun . Ayolah kita bersama-sama menuju negri Pringgadani untuk memotong ari-ari si Tetuko “

Surem surem diwangkara kingkin, lir manukswo kang layon…….
bandero layung kumitir……..
wadananira kang layung ……..
rah-nya maratani………
aduh rogo , gondelono sukmo………..oooooo……….drodog…dog….. ( suluk dalang )

indonesia : ( cahaya temaram ketika matahari berduka……..
bendera kematian berkibar-kibar…….
tubuh-tubuh rebah……….
darahnya mengalir kemana-mana…….
aduh raga , tahanlah kepergian sang sukma……………)

Seluruh isi istana diam, suasana tintrim , hanya sesekali terdengar celotehan si jabang bayi Tetuko.
Bayi sehat berukuran XL , karena sebenarnya ia keturunan raksasa dan manusia super. Makanan suplemennya saja dalam satu hari menghabiskan susu bayi Laktogen 10 kaleng , belum lagi biskuit bayi dan pisang raja hampir 10 tandan.
Saat itu adalah saat2 yang menentukan. Ari-ari akan segera dipotong dengan warangka kayu Mastaba.
Kresna yang akan melakukan. Bima menggeram , gelisah. Arimbi hanya diam, namun hatinya memuja Dzat yang maha tinggi, berdoa agar putranya selamat.
Warangka senjata Konta di ayunkan, benturannya dengan ari-ari menimbulkan api sebesar obor yang menyala kebiruan. Bayi Tetuko menjerit keras , dan warangka Konta Wijayandanu lenyap masuk ke dalam perutnya. Semua yang hadir terkejut , Bima segera meloncat mendekati si jabang bayi.

“ Eeeeee , bregenjong-bregenjong waru doyong…….tenang…tenang…..cucu2ku semuanya…..tenang. Memang sudah menjadi kehendak Dewata, bahwa Warangka Konta akan menyatu dengan tubuh si Jabang bayi. Ini akan menambah kekuatan tubuhnya. Hanya satu pesan para Dewa, kelak pada perang besar Baratayudha agar Tetuko menjauhi senjata Konta…….” Batara Narada menenangkan suasana.
“ Satu lagi permintaan para Dewa, Tetuko akan dipinjam sebagai “ sraya” untuk menghancurkan raja Gilingwesi yang sekarang sedang mengepung Kahyangan Jonggringsalaka “
Batara Narada segera melesat terbang, sambil menggendong bayi Tetuko.

Syahdan.

Diluar benteng Repat Kepanasan, pasukan raksasa berpesta pora. Mereka tetap mengepung Kahyangan. Sedangkan didalam benteng, para Dewa gelisah. Sudah berhari-hari tempat itu dikepung barisan kerajaan Gilingwesi, tanpa bisa berbuat apa2.
Batara Narada segera turun di hadapan Kala Pracona dan Patih Sekipu. Segera saja pasukan raksasa merubung tempat itu.
“ Heeeee….Kala Pracona , inilah lawanmu, sraya para dewa, yang akan membunuhmu “ kata Narada.
“ Hwakakakakakak……….para Dewa sudah ediaaaan alias gendheng……hwakakakakak……masak bayi baru lahir dijadikan jago para Dewa untuk melawan kita……..” Patih Sekipu tertawa , di iringi tawa gemuruh seluruh pasukan raksasa.
Batara Narada meletakkan bayi Tetuko di padang pasir yang panas, dan terbang ke angkasa.

Prabu Kala Pracona gembira, seolah mendapat hiburan, ditengah hari-hari panjang dalam penyerbuan ke Jonggringsalaka. Bayi itu dilempar-lempar keudara , direbut oleh Sekipu dan dijadikan permainan seluruh pasukan . Anehnya , bayi Tetuko tertawa-tawa , digigit , dibanting , oleh para raksasa seolah tak terasa.

Kala Pracona merasa penasaran , bayi itu didekatkan kewajahnya , sambil terus tertawa-tawa.
Dengan tak sengaja, kaki bayi Tetuko menendang mukanya. Kala Pracona terhuyung, mukanya bagaikan dihantam palu godam 10 ton . Hatinya murka , bayi dilemparkan kearah selatan , menuju puncak Gunung Jamurdipa.

Disana telah menunggu kawah Candradimuka , yang berisi lahar panas membara.
Lahar panas membara, seolah menggapai-gapai , dan siap melumat apa saja yang masuk didalamnya.

(bersambung)
GATUTKOCO SROYO.
( sroyo = utusan , sesorang yang diutus )

Kilatan lidah api yang berasal dari lahar panas itu segera menangkap tubuh bayi Tetuko . Segera dibanting kearah lahar yang berpijar dan bergejolak dengan panas melebihi 1.000 degrees centigrade .
Para Dewa segera berbondong-bondong terbang menuju puncak Gunung Jamurdipa.
Tangan mereka membawa aneka rupa senjata ampuh dari gudang senjata Kahyangan. Senjata2 itu di ceburkan kedalam Kawah Candradimuka.
Bayi Tetuko tidur pulas ditengah-tengah gejolak lahar kawah, senjata2 sakti melebur dengan tubuhnya. Perlahan tapi pasti, tubuh bayi itu membesar hingga seukuran pemuda dewasa. Tubuhnya kuat , kebal terhadap senjata apapun.
Gagah dan tampan.
Wajahnya “ mencereng ora medèni “ atau galak tapi nggak menakutkan.

Batara Guru , memberikan hadiah berupa :

Kotang Antakesuma : yaitu baju zirah yang letaknya diatas daging dibawah kulit. Terlihat tidak ada, padahal ada. Antakesuma membuat Tetuko mampu terbang tanpa sayap, mengapung di mega mendung , serta kebal dari segala jenis senjata sakti.

Terompah Padakacerma : yaitu terompah / sandal yang membuat Tetuko mampu berlari laksana angin.

Caping Basunanda : yaitu mahkota yang mampu membuat Tetuko “murca” alias menghilang, disamping ia mampu berfikir secara jernih dalam kondisi apapun.

Sumping Kalanjana : yaitu hiasan telinga yang membuat Tetuko mampu mendengarkan suara yang jaraknya ratusan kilometer.

Ajian Esmugunting , kekuatan tangan Tetuko mampu memutuskan wesi gligen.

Bersamaan dengan fajar menyingsing , Tetuko telah keluar dari gemblengan Kawah Candradimuka. Duduk terpekur dihadapan para Dewa.
Masing2 Dewa segera melakukan “ transfer knowledge “ kedalam kepribadian Tetuko . Ilmu sastra, ilmu tulis dan segala macam kaweruh mengenai tatanegara, unggah-ungguh, sopan santun , budi pekerti dan segala piwulang luhur, dan ilmu kadewatan.
Angin semilir , berhembus membawa kesejukan seiring dengan datangnya Batara Guru.
Dia meletakkan tangannya dikepala Tetuko, dan memberikan gelar “ Gatotkaca “ yang artinya, berfikir laksana cermin yang bening dan bersih.
Dan juga gelar ” Padma Negara ” yang berari Bunga Bangsa dan pembela kebenaran.

Pasukan raksasa Gilinwesi gempar.
Dihadapan mereka telah berdiri seorang Ksatria gagah perkasa, Gatotkaca.
Dibelakangnya berdiri pula 5 orang raksasa tinggi besar menjulang kelangit. Mereka itu adalah paman Gatotkaca yang bernama Brajadenta, Brajamusti, Brajawikalpa, Brajalamatan dan Kalabendana.
Dibelakang kelima Panglima Pringgadani itu bergerak pula pasukan segelar sepapan , dalam formasi perang “ Cakrabyuha “ . Mereka bergerak perlahan, namun tak sabar menunggu aba-aba untuk menyerang.

Gatotkaca melambaikan tangan.
Tanpa diulang kedua kali, pasukan Pringgadai segera menggempur pasukan Gilingwesi. Bagaikan gelombang air bah yang menggulung. Melumat dan menghancurkan segala penghalang didepannya.
Gatotkaca melompat terbang kelangit biru.
Kemudian meluncur kebumi , kebat pindha kilat , kesit pindha thathit, disambarnya kepala Patih Sekipu , dengan kekuatan yang tiada tara kepala itu dipuntir hingga putus. Darah muncrat dari tubuh Sekipu yang telah kehilangan kepala , dan robohlah tubuh itu kebumi.

Kala Pracona terkejut , menyaksikan kematian Patih Sekipu.
Raja Raksasa pemberani itu segera mengerahkan seluruh aji jaya kawijayan yang dimilikinya. Tubuhnya menyala seperti bara api , dan setiap ia berteriak maka kobaran api akan menyembur dari mulutnya. Dia segera melemparkan sejata2 saktinya ketubuh Gatotkaca , limpung, candrasa, bergola yang semuanya tak mampu melukai Ksatria gagah ini.
Gatotkaca tak membuang-buang waktu lagi.

Dengan merapal mantram sakti anugerah Dewata, Aji Esmugunting di posisikan dalam kekuatan penuh ( full power ) , Gatotkaca melesat kearah kepala Naga Percona , dengan pluntiran “ counter clockwise “ maka putuslah kepala Raja Raksasa itu.
Tubuh sebesar gunung anakan dan masih menyala itu. dibawa terbang keangkasa dan dibanting kebumi hingga hancur lebur.
Dengan hancurnya tubuh Kala Percona , maka suasana yang menggejolak perlahan-lahan berubah tenang.
Para dewa bersorak gembira, mangayubagya hancurnya sebuah tindak angkara murka.
Para Bidadari menaburkan kembang wora-wari yang berbau harum mengiringi kejayaan kebenaran “ suro diro jayaningrat lebur dening pangastuti “………………………

( bersambung )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s