DETIK TERAKIR BERSAMA BUNG KARNO

Standar

ajudan bung karnoSIDARTO DANUSUBROTO,…. DETIK TERAKIR BERSAMA BUNG KARNO
(Promote: Ketua MPR pengganti Alm. HM. Taufiq Kiemas)

Sidarto Danusubroto adalah ajudan terakhir Bung Karno. Sehari setelah peringatan meninggalnya (haul) Bung Karno, 21 Juni lalu, dia menuturkan kembali pengalamannya mendampingi proklamator itu. Banyak cerita menarik yang belum terungkap.

Saat itu, Bung Karno memberinya sebuah buku berjudul Sukarno an Autobiography karya Cindy Adams. Sampul buku tersebut berwarna merah dengan foto Bung Karno yang berjas putih, berpeci, sambil tertawa lebar. Ketika memberikan buku itu, Bung Karno yang tengah berada di ujung kejatuhannya menyampaikan wejangan kepada Sidarto.

Bung Karno menyatakan bahwa dirinya bisa dikucilkan, dijauhkan dari keluarga, bahkan ditahan dan lama-lama akan mati sendiri. ’’Tetapi, catat ya To (Sidarto, Red), jiwa, ide, ideologi, dan semangat tak dapat dibunuh,’’ ungkap Sidarto menirukan ucapan Bung Karno saat ditemui di kediamannya, Jalan Kemang Utara, Jakarta Selatan, Rabu (22/6).

Bung Karno mengutip kalimat yang diucapkannya itu dari filsuf Jerman, Freili Grath, yang dalam bahasa aslinya berbunyi, ’’Man totet den geist nicht”. Sidarto sempat tertegun mendengarnya. Secara spontan, dia lantas meminta Bung Karno untuk menuliskan ucapannya tersebut di halaman depan buku yang baru diterimanya.

“Waktu beliau bicara begitu, saya bilang, Pak tolong ditulis sekalian di situ. Maka, jadilah tulisan ini,” ujar Sidarto sambil menunjukkan buku bersejarah yang masih terawat baik itu.

Dengan nada bercanda, Sidarto menyatakan, coretan tangan Bung Karno itulah yang dijadikan salah satu materi kampanyenya saat pemilu legislatif lalu. Dia mencetak tulisan tersebut di panel baliho kampanyenya. Hebatnya, model kampanye itu manjur. Sidarto terpilih kembali menjadi anggota DPR dari PDIP untuk periode ketiga sejak 1999.

Alumnus Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta 1962 tersebut kembali terpilih dalam Pemilu 2009 dari dapil Jawa Barat VIII yang meliputi Kabupaten dan Kota Cirebon serta Kabupaten Indramayu. Meski sudah cukup umur, Sidarto masih terlihat bugar dan energik.

Dia memang berkesempatan dekat dengan Bung Karno. Sebab, sejak 6 Februari 1967, Sidarto yang kala itu berpangkat ajun komisaris besar polisi (AKBP) ditugasi menjadi ajudan Bung Karno. Dia menggantikan Kombespol Sumirat yang ditahan pasca-Supersemar. Surat keputusan pengangkatan Sidarto ditandatangani Bung Karno pada 22 Februari 1967.

Baru tiga bulan Sidarto menjalankan tugas, situasi politik nasional yang tengah memanas mencapai klimaksnya. Pada 12 Maret 1967, keluar TAP MPRS XXXIII/MPRS/1967 yang melucuti kekuasaan eksekutif Bung Karno. Melalui TAP itu juga Soeharto diangkat menjadi pejabat presiden.

Meski Soekarno sudah tidak mempunyai kekuasaan, Sidarto tetap tidak ditarik dari posisinya sebagai ajudan. Sewaktu menghadap pimpinan Polri, dia diperintah agar terus mendampingi Bung Karno. “Pemerintah memandang Bung Karno perlu didampingi ajudan. Jadi, saya melayani presiden yang ditahan,” tuturnya.

Tetapi, untuk sementara, Bung Karno yang diposisikan sebagai presiden nonaktif masih diperbolehkan tinggal di Istana Merdeka. Sampai suatu hari, sekitar Mei 1967, Bung Karno yang didampingi Sidarto yang baru saja pulang dari jalan-jalan keliling Jakarta dicegat dan dilarang masuk istana. “Saya ingat, beliau habis nyate (makan satai, Red) sama saya di pinggir Pantai Cilincing,” cerita Sidarto.

Karena tidak diperbolehkan masuk istana, Bung Karno langsung menuju kediaman Wisma Yaso (sekarang menjadi Museum Satria Mandala, Red) di Jalan Gatot Subroto. Karena mendadak, presiden pertama republik itu tidak sempat berkemas. “Barang-barang pribadi beliau sama sekali tidak bisa dibawa,” ungkap mantan Kapolda Sumbagsel (1986-1988) tersebut.

Terusir dari istana juga berarti kehilangan fasilitas protokoler, termasuk sekretaris presiden. Karena itu, Sidarto kemudian mendapat tugas tambahan baru, yakni menjadi “sekretaris” Bung Karno. “Jadi, saya sempat menjadi ajudan sekaligus sekretaris dadakan Bung Karno. Hasil ketikan saya ya kurang proporsional seperti ini,” katanya sambil menunjukkan sejumlah copy surat yang masih disimpan dengan rapi.

Menurut Sidarto, tak lama setelah meninggalkan Istana Merdeka, Bung Karno tak ubahnya tahanan kota. Untuk mobilitas Jakarta-Bogor saja, Bung Karno harus mendapat izin tertulis dari Pangdam VI Siliwangi dan Pangdam V Djayakarta. Nah, tugas mengurus perizinan itu dibebankan ke pundak Sidarto.

“Jadi, tugas saya bolak-balik mengurus exit permit dan entry permit. Jakarta-Bogor sudah kayak ke luar negeri saja,” ujar bapak lima anak itu sambil geleng-geleng kepala.

Pada pengujung Desember 1967, Bung Karno mulai berstatus tahanan rumah. Dia tidak boleh lagi meninggalkan Wisma Yaso. Bahkan, keluarga dan kerabat sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dahulu dari otoritas yang berwenang.

Dalam periode susah seperti itu, Sidarto kembali mendapat pengalaman yang tak terlupakan. “Saya disuruh ke sana-kemari mencari duit. Sebab, Bung Karno tidak pegang duit,” katanya.

Menurut dia, Bung Karno memang seorang negarawan yang genius. Namun, soal keuangan pribadi, dia tak begitu memperhatikan. Karena itu, saat menjadi tahanan rumah, Bung Karno sering kehabisan uang pegangan maupun uang untuk biaya hidup sehari-hari.

“Sewaktu disuruh mencari duit itulah, saya sempat bingung dari mana bisa memperolehnya. Sebab, orang-orang dekat Bung Karno sewaktu saya dekati malah lari semua. Mereka takut. Hanya satu-dua orang yang masih setia,” ujar Sidarto yang kini duduk di Komisi I DPR tersebut.

Suatu ketika, Bung Karno meminta Sidarto menemui Tukimin, mantan pejabat rumah tangga Istana Merdeka. Tanpa kesulitan berarti, Sidarto berhasil mendapatkan USD 10 ribu dari Tukimin.

Kesulitan justru terjadi saat hendak membawa uang itu ke Wisma Yaso. Sidarto takut digeledah penjaga, kemudian uangnya disita. Tak kehilangan akal, dia lalu memasukkan uang tersebut ke kaleng biskuit. Dia lantas menemui Megawati dan meminta putri Bung Karno itu membawakannya untuk Bung Karno.

“Mbak Mega yang bawa masuk. Mbak Mega kan bisa beralasan untuk mengunjungi ayahandanya,” kenang Sidarto.

Pada 23 Maret 1968, turun surat resmi dari Markas Besar Angkatan Kepolisian (saat ini Mabes Polri, Red) yang berisi penarikan Sidarto dari posisinya selaku ajudan Bung Karno. “Saat kondisi kesehatan Bung Karno semakin lemah, fungsi ajudan semakin tidak diperlukan. Yang lebih dibutuhkan adalah dokter dan perawat. Saya lalu diminta Panglima Angkatan Kepolisian (saat ini disebut Kapolri, Red) Soetjipto Joedodihardjo untuk ditarik,” jelasnya.

Meski dalam surat penarikan Sidarto masih disampaikan kemungkinan dikirimkan penggantinya, faktanya ajudan baru itu tidak pernah ada. Jadi, Sidarto tercatat sebagai ajudan terakhir Bung Karno.
———-
Nama Lengkap & Gelar: Drs. Sidarto Danusubroto, SH
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Tempat & Tanggal Lahir: Pandeglang, 11-Juni-1936
Agama: Islam
Status Pernikahan: Menikah
Nama Istri: Sri Artiwi Sidarto
Pekerjaan Istri: Ibu Rumah Tangga
Jumlah Anak: 5 (lima) Orang
Alamat Kantor: Gd. DPR/MPR RI Nusantara I Lt. 07 R. 0714 Jl. Gatot Subroto Jakarta
Telpon,Fax Kantor: 5756260, 5756261, 5715518, 5715520
Alamat Rumah: 1. Jln. Kemang Utara I No.16 Rt 010/01 Jakarta 12730
2. Resor Dago Pakar Kav. 140 Bandung
Telpon,Fax Rumah: 719 3556, Fax. (021) 718 3303
RIWAYAT PENDIDIKAN
1. SDN Yogya 1948
2. SMPN 1 Yogya 1952
3. SMA Negeri VI Yogyakarta 1955
4. Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta 1962
5. Ujian Negara Sarjana Hukum 1965
6. SESKOPOL 1969-1970
7. SESKOGAB Bandung 1977
RIWAYAT PEKERJAAN
1. Ajudan Presiden, 1967-1968
2. Kapolres Tangerang, 1974-1975
3. Kadispen Polri, 1975-1976
4. Kepala Interpol, 1976-1982
5. Kepala satuan Komapta Polri, 1982-1985
6. Wakapolda Jawa Barat, 1985-1986
7. Kapolda Sumbagsel, 1986-1988
8. Kapolda Jawa Barat, 1988-1991
RIWAYAT JABATAN PADA LEMBAGA PEMERINTAHAN
1. Kadispen Polri 1975 – 1976
2. Kepala Interpol 1976 – 1982
3. Kepala Komapta 1982 – 1985
4. Kapolda Sumbagsel 1986 – 1988
5. Kapolda Jawa Barat 1988 – 1991
6. Anggota DPR-RI A-120, 1999-2004
PENGALAMAN/JABATAN PADA ORGANISASI
1. Pramuka (organisasi kepanduan)
2. Ketua OSIS SMAN V & VII, Yogya, 1954
3. Pemimpin Umum Majalah ISIK, 1969
4. Ketua Umum Keluarga Pelajar SMA VI Yogyakarta
5. Senat PTIK / Senat Seskopol, 1960-1961
6. Pengurus Harian Litbang PDI Perjuangan
7. Ketua DPP PDI Perjuangan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s