Wage Rudolf Supratman bag 1

Standar

172419_alahdetik_90_page_001Patung berdiri tegak di perempatan Jalan Patok, Kota Purworejo,
Jawa Tengah. Patung yang dibangun tahun 1983 itu berbalur cat warna emas. Tangan
kirinya memegang biola, sedangkan tangan kanannyamenunjuk ke depan, ke arah selatan. Seolah pencipta mahakarya lagu Indonesia Raya itu ingin menunjukkan tanah kelahirannya berada.
Sekitar 13 kilometer ke arah selatan dari patung itu,terdapat sebuah dukuh atau kampung bernama Eleng Trembelang, Desa Somangari, Kecamatan Kaligesing.
Somangari yang konon diambil dari nama prajurit Pangeran Diponegoro itu terletak di perbatasan Jateng DI Yogyakarta. Sangat terpencil. Perlu waktu satu jam perjalanan dari Purworejo dengan menumpang
angkutan desa yang jumlahnya sedikit.
Di Somangari-lah, pemerintah setempat membangun dua petilasan Supratman, yaitu rumah tempat
lahir dan ari-arinya (plasenta). Rumah dengan dinding kayu itu berada 1 km dari jalan utama Somangari.
Untuk mencapainya harus mendaki jalan setapak. Dikelilingi pohon-pohon besar, suasana di rumah yang
menjadi saksi bisu kelahiran Supratman itu sejuk, juga hening.
Rumah itu dahulu milik Suprono, kakak tertua ibunda Supratman, Siti Senen atau Mbok Senen. Lurah
Somangari Subagyo yang menemani majalah detikmenapak tilas awal Juli 2013 mengatakan, rumah itu
terakhir dihuni oleh keturunan Suprono, Sumikem. Karena terkena longsor, bagian depan rumah joglo itu sempat diubah dari utara ke selatan. Setelah dipugar tahun 2007, Pemda mengembalikannya ke posisi semula. Sebagai memorial house, rumah itu lantas dilengkapi silsilah keluarga juga riwayat lahirnya Supratman di Purworejo. Supratman adalah anak dari pasangan Mbok Senen dan Sastrodiharjo alias Kartorejo, seorang Sersan Pelatih atau instruktur Koninklijk Nederlands Indisch Leger (KNIL), serdadu pribumi bentukan Belanda. Saudara kandung Supratman disebut berjumlah enam orang, tapi ada sumber lain yang menyebut delapan. Dari sekian itu, yang cukup jelas adalah tiga kakak Supratman, Roekijem Soepratijah, Roekinah Soepratinah, dan Ngadini Soepratini, serta seorang adik, Gijem Supratinah. Sastrodiharjo terakhir berdinas di tangsi Bataliyon 18 KNIL Jatinegara, sebelum menetap sampai akhir hayatnya di Cimahi, Jawa Barat.Tak ada sumber sejarah primer, misalnya akta kelahiran, yang bisa menjadi bukti keras di mana kelahiranSupratman. Pada 1957, Sukarno sudah membentuk
tim untuk menyelisik kelahiran Supratman. Tim sempat berkunjung ke Somangari, namun tidak mendapat hasil, karena warga tutup mulut. Mereka trauma dengan intimidasi Belanda saat mengulik informasi persembunyian Supratman di Somangari.Setahun berikutnya, terbit putusan perdata Pengadilan Negeri Surabaya, Jawa Timur, yang mengadili tentang ahli waris Supratman. Sidang itu dimohonkan oleh keempat kakak dan adik kandung Supratman. Mereka geregetan dengan seorang perempuan yang mengaku sebagai istri Supratman, Salamah. Padahal, sepengetahuan keluarga, semasa hidupnya, Supratman membujang. Di dalam putusan itu disebut Supratman lahir di Jatinegara tahun 1903, tanpa tanggal dan bulan.Literatur tentang Supratman terbit pertama kali pada tahun 1967. Buku berjudul Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan WR Supratman Penciptanyaitu dikarang oleh Oerip Kasansengari. Kasansengari merupakan sahabat sekaligus kakak mimisan (ipar jauh) Supratman. Adiknya menikah dengan Gijem. Kasansengari juga berkawan dengan Rudolf van Eldik, suami Roekijem Soepratijah. Pasangan ini yang mengasuh Supratman di Makassar setelah Mbok Senen meninggal tahun 1910. Kasansengari menulis, Supratman lahir di Jatinegara pada Senin Wage 9 Maret 1903 pukul 11.00 WIB. Wage adalah salah satu hari dalam kalender Jawa.Anak Kasansengari, Oerip Soedarman Kasansengari, menegaskan, Supratman lahir di tangsi militer KNIL Jatinegara. Saat Sastrodiharjo ditugaskan ke Sumatera, Jakarta sedang dilanda epidemi penyakit kolera dan disentri. Demi kesehatan anak-anaknya, Mbok Senen lantas mengungsikan mereka ke Purworejo sebelum menyusul sang suami. “Jadi W.R. Su-pratman dibawa ke Purworejo saat masih bayi,” kata Soedarman saat ditemui majalah detik di Surabaya.Pemerintah RI kemungkinan memakai versi Kasansengari sebagai rujukan. Tempat dan tanggal lahir Supratman itu terkutip dalam buku berjudul Lagu Kebangsaan Indonesia Raya karangan Bondan Winarno, yang dipersembahkan untuk peringatan HUT ke-57 RI di Istana Merdeka. Presiden RI saat itu, Megawati Soekarnoputri, kemudian menisbatkan tanggal kelahiran sang komponis, 9 Maret, menjadi Hari Musik Nasional.
Namun, menurut Subagyo, masyarakat dan Pemda Purworejo meyakini betul Supratman merupakan putra daerah Somangari. Ia lahir pada tanggal 19 Maret 1903, selisih 10 hari dari versi pemerintah. Warga Somangari rutin menggelar tirakatan memperingati hari kelahiran Supratman itu. Tanggal kelahiran Supratman itu diteguhkan Pemda Purworejo melalui pengadilan tahun 2007 lalu.
Namun sebelum itu Pemda Purworejo sudah menempuh jalan cukup panjang. Sejak tahun 1976, mereka mengadakan penelitian dan seminar mengenai Supratman. Seminar digelar di Jakarta pada 28-29
Oktober 1977. Turut diundang Soeparjo, adik tiri Supratman. Ayah Supratman pernah menikah lagi dengan perempuan bernama Ujeg, ibu Soeparjo. Soeparjo mengatakan, tempat kelahiran W.R. Supratman di Jatinegara dimaksudkan untuk menjaga gengsi. Hal itu dia dengar langsung dari Roekijem Soepratinah, kakak sulung Supratman. “Tidak pas rasanya komponis kok lahirnya di Desa Somangari, desa pegunungan,” kata Soeparjo menirukan Roekijem.Adapun penelitian Pemda Purworejo mulai tahun 1976 mengandalkan sumber-sumber lisan para sesepuh Somangari yang masih hidup ketika itu, yakni Martowidjojo alias Tepok (96), dan Atmoredjo alias Kasoem (93). Ada juga riset Paguyuban Keluarga Somangari yang menyumbang satu saksi, Martodikromo (90), tetangga Suprono. Satu anggota kerabat Supratman juga diminta bahan informasi, yaitu Ranoepawiro, anak Suprono atau sepupu Supratman. Kecuali Martowidjojo, para saksi ini juga dihadirkan dalam sidang yang digelar Pengadilan Negeri Purworejo di pendopo Balai Desa Somangari tahun 1978.
Dari risalah sidang yang diperoleh majalah detik,Kasoem mengetahui kepulangan Mbok Senen ke Somangari setelah Gunung Kelud Meletus (1901/1902). Perjalanan itu begitu berat, karena dilakukan dalam kondisi mengandung Supratman tujuh bulan. Saat tiba di Somangari, Mbok Senen mengundang kehebohan seantero kampung. Sebab, keadaan Mbok Senen sudah berubah dibandingkan ketika meninggalkan Somangari. Pakaian yang dikenakannya serbabagus. “Bahkan wajahnya saat itu lebih cantik daripada dahulu,” ucap Kasoem di depan hakim yang dipimpin Ismoen Abdulrochim.
Kasoem yang saat itu berusia 17 tahun melanjutkan, Supratman lahir pada Kamis Wage, namun ia tidak
ingat persis tanggalnya. Saat sedang lewat di depan rumah Suprono untuk menggembala kambing, iamendengar ribut-ribut dari dalam rumah. Penasaran, ia lalu bertanya kepada Suprono tentang apa yang terjadi. “Senen arep ngelahirake (Senen akan melahirkan),” jawab Suprono. Bayi laki-laki itu kemudian dinamai Wage. Tiga bulan kemudian, Wage dibawa ke Jakarta.
Sama seperti Kasoem, Tepok tidak pernah melihat bayi Supratman. Saat akan ke rumah Supratman dilahirkan, Tepok dilarang oleh ibunya, karena malam Jumat banyak hantu yang berkeliaran. Tepok juga tidak ikut muyen (kenduri). Namun, warga Trembelang pada berdatangan ke rumah Suprono untuk kenduri, termasuk ayahnya sendiri. “Bapak saya pulang membawa berkat (makanan),” kata Tepok.
Adapun Ranoeprawiro yang saat sidang berusia 67 tahun bersaksi, Supratman pernah berkunjung
ke Somangari sebanyak dua kali pada tahun 1924 dan 1936. Kedatangan Supratman itu dalam rangka
nglarah waris atau menelusuri keluarga yang masih hidup. Supratman datang bersama kakaknya Roekijem. Disebut-sebut, Supratman sempat menonton pertunjukan wayang kulit saat pulang kampung.
Tak ada dokumen tentang putusan sidang tahun 1978 itu. Merasa belum memperoleh kepastian, Pemda Purworejo kembali membawa polemik kelahiran Supratman ke pengadilan pada tahun 2007. Beberapa
saksi kerabat dihadirkan, antara lain Sastro Senjoyo dan Edi Sitinjak, cucu Ngadini Soepratini. Senjoyo menyaksikan kedatangan Supratman di Somangari tahun 1936 dengan naik andong. Sedangkan Sitinjak mengaku pernah bertanya kepada Roekijem dan dijawab Supratman lahir di Jawa.
Selebihnya, sidang menghadirkan para penulis buku yang juga pernah wawancara langsung dengan Tepok dan Kasoem, yaitu Dwi Raharja dan Radix Penadi. Menggunakan kalender abadi 40 abjad karangan Suno, ditemukan bahwa Kamis Wage tahun 1903 jatuh pada tanggal 19 Maret. Pendapat ini didukung oleh Radix. Pada 27 Maret 2007, hakim pun mengetukkan palu, mengamini pendapat itu.
“Menyatakan bahwa Wage Rudolf Supratman lahir tanggal 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa
Tap/klik unTuk berkomenTar Somangari,” kata hakim tunggal Prio Utomo.

One response »

  1. Makam beliau di Jalan arah Kenjeran Surabaya, Jalan depannya sering saya lalui waktu saya masih di Surabaya…Tahun lalu saya waktu jalan jalan ke Jembatan Suramadu juga lewat situ…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s