Asap Cair Batok Kelapa Yang Menjanjikan

Standar

1312asap-cairKamis, 13/12/2012 – 05:08
NURHANDOKO/”PRLM”
SUMARNO(55) warga Batulawang, Kecamatan Pataruman,Kota Banjar, menunjukkan tabung plastik sebagai tempat pengembunan atau kondensasi asap batok kelapa menjadi asap cair. Ia merintis usaha asap cair yang dihasilkan dari asap batok kelapa untuk penggumpal karet dan bahan pengawet.*
BANJAR,(PRLM).- Sudah banyak yang mengetahui seluruh bagian pohon kelapa bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun masih sedikit orang yang tahu potensi terpendam dari batok kelapa.
Selama ini yang dikenal batok kelapa hanya sebagai bahan bakar, dibuat arang dan bahan kerajinan. Padahal masih ada potensi batok kelapa yang belum dimanfaatkan secara maksimal, yaitu asap batok kelapa.
Kepulan asap putih hasil pembakaran batuk kelapa dapat menjadi tambahan sumber penghasilan warga yang cukup menjanjikan, yaitu dibuat asap cair organik atau organic liquid smoke .
Belakangan ini keberadaan asap cair batok kelapa mulai diburu. Sebab bahan cair yang mengeluarkan aroma khas asap tersbeut bisa dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan.
Misalnya bahan baku campuran obat, bahan pengawet kayu, pengawet telur, penghilang bau sampai dengan media untuk pengental karet mentah, sebagai pengganti asam semut atau biang cuka.
Usaha pembuatan asap cair dari batok kelapa, sejak dua bulan ini mulai dikembangkan di Kota Banjar. Adalah Sumarno (55) tnggal di Desa Batulawang, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar yang merintis usaha asap cair batok kelapa.
Dia memutuskan untuk mengembangkan usahanya di kota paling ujung timur Provinsi Jawa barat itu, karena melihat melimpahnya bahan baku, yaitu batok kelapa.
Selain itu juga potensi pasar yang lebih menjanjjikan dibandingkan dengan usaha sejenis yang telah dirintisnya di Madiun, Provinsi Jawa Timur.
“Saya melihat bahan baku di sini sangat melimpah dan harganya relatif lebih murah dibandingkan tempat lain, selain itu yang lebih penting pemasaran masih lebih terbuka. Salah satu sasaran saya adalah perkebunan karet yang banyak ditemukan di sekitar Kota Banjar,” tuturnya.
Di sela menunggu proses pembakaran batok kelapa yang ditempatkan dalam bejana yang terbuat dari tembok bata berukuran 2 x 2 meter itu, ia mengungkapkan berdasar hasil percobaan sederhana di tempat pengepulan karet, ternyata asap cair sebagai bahan penggumpal karet mental lebih unggul dibandingkan memakai asam semut.
“Saat dipraktikkan, waktu penggumpalan lebih singkat. Hal lain yang lebih utama adalah pemanfaatan asap cair batok kelapa itu dapat menmghilangkan bau, beda dengan asam semut yang menimbulkan polusi udara akibat bau yang sangat menyengat,” ungkapnya.
Dari sisi harga, tambah Sumarno yang didampini beberapa pekerja, asap cair batok kelapa lebih murah dibandingkan dengan biang cuka atau asam semut yang saat ini berkisar Rp 30.000 per liter. Harga asap cair batok kelapa, dipastikan lebih murah dibandingkan dengan penggumpal lainnya.
Dia mengaku mendapatkan ide membuat asap cair batok kelapa setelah membuka-buka internet. Salah satunya mengenai hasil penelitian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang mengupas masalah asap cair.
“Saya belajar dari internet, khususnya penelitian UGM. setelah itu baru saya praktikan di Madiun, sebelum di Banjar tentunya,” ungkap ayah dua orang putra itu.
Sumarno menjelaskan untuk membuat asap cair secara tradisional tidak membutuhkan banyak teknologi, hanya teknologi tepat guna saja.
Untuk usahanya itu, dia membangun bejana dapur pembakaran yang dibuat mirip sumur dengan ukuran 2 x 2 meter. Untuk sekali produksi ia membutuhkan 1,5 ton batok kelapa.
Sebagian batok kepala yang diletakkaan pada posisi paling bawah kemudian dibakar. Setelah terbakar, bagian atasnya ditimbun lagi dengan batok kelapa lainnya hingga memenuhi bejana.
Pada bagian atas bejana dipasang lubang sebagai tempat keluarnya asap. Selanjutnya asap dialirkan ke dalam plastik berukuran besar, sebagai tempat untuk kondensasi atau mengubah asap menjadi cair.
“Plastik tersebut sebagai pendingin hingga asap berubah menjadi cair. memang masih ada asap yang keluar, akan tetapi relatif sangat sedikit, sehingga tidak menimbulkan polusi,” katanya.
Dari bahan baku 1,5 ton batok kelapa yang didatangkan dari berbagai wilayah sekitar Kota Banjar seperti Kabupaten Ciamis dan Cilacap, dihasilkan asap cair sebanyak 600 liter.
Arang batok kelapa dijual Rp 3.500 per kilogram. “Jadi tidak hanya mendapat asap cair, akan tetapi juga tambahan arang batok kelapa. Harga asap cair bisa lebih mahal lagi, dengan cara disuling terlebih dahulu ,” tuturnya.
Sumarno yang merasa penasaran dengan manfaat asap cair batok kelapa juga melakukan percobaan sendiri, yaitu memasak daging ayam sayur dengan air yang dicampur asap cair.
Ternyata, lanjutnya, daging ayam sayur yang dalam memasaknya diberi sedikit asap cair, rasanya lebnih kenyal.
“Ya tidak kalah dengan rasa daging ayam kampung, bau asap tidak ada. Untuk mendapatkan komposisi yang tepat, saya juga beberapa kali melakukan uji coba. Informasi yang saya terima asap cair batok kelapa itu juga tidak beracun, sehingga aman,” ungkap Sumarno.(A-101/A-89)***
• JAWA BARAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s