KISAH EMPAT BUMN & SEBUAH MIMPI

Standar

Tri Waluyo Qusyairi
Perkeretaapian, ketenagalistrikan, pertelekomunikasian dan perposan. Tak pelak, keempatnya merupakan cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak. Dari kacamata sekuriti, gedung dan instalasi badan-badan penyelenggara keempat industri ini tergolong obyek vital sehingga harus mendapat pengamanan ekstra. Itulah mengapa pemerintah kolonial Hindia Belanda menempatkan sejumlah sarana berikut kantor pusat jawatan-jawatan yang membawahkan keempat jenis industri ini bukannya di Batavia yang pusat pemerintahan, melainkan di Bandung. Tidak lain tujuannya tentu agar tidak mudah jatuh ke tangan musuh.
Dari sejarah negeri ini bisa ditelusuri, betapa jawatan dan atau perusahaan yang mengelola keempat jenis industri di atas punya hubungan yang sangat erat. Tengok saja pengambilalihan instansi PTT dari tangan Jepang yang dilakukan pada 27 September 1945, dipelopori oleh Angkatan Moeda PTT (AMPTT). Selang satu hari, pengambilalihan Balai Besar Kereta Api berlangsung pada 28 September 1945 di bawah komando Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA). Perusahaan listrik Gebeo di Bandung pun direbut oleh pemuda-pemuda Indonesia dari pimpinan Jepang pada bulan September 1945, meski pun pembentukan Jawatan Listrik dan Gas oleh Presiden Soekarno baru terealisasi pada 27 Oktober 1945.
Sejak itu rakyat Indonesia mengenal 27 September sebagai Hari Bakti Postel, 28 September sebagai Hari Kereta Api, dan 27 Oktober sebagai Hari Listrik Nasional. Hari-hari tersebut niscaya menjadi tonggak sejarah bagi masing-masing badan penyelenggara milik negara.
Urusan Hari Jadi, kok bisa beda puluhan tahun?
Waktu terus berjalan, keempat badan penyelenggara milik Pemerintah itu terus bertransformasi sesuai tuntutan zaman. Kini badan usaha milik negara yang mengoperasikan kereta api bernama PT Kereta Api Indonesia (Persero) disingkat KAI, operator listrik namanya PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) disingkat PLN, unit usaha PTT di bidang telekomunikasi menjadi PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk disingkat Telkom, sedangkan layanan pos dijalankan oleh PT Pos Indonesia (Persero), disingkat Posindo.
Sampai dengan 2008 Posindo dan Telkom, yang sama-sama dibesarkan di kawasan Gedung Sate, masih sama-sama memperingati 27 September sebagai Hari Bakti Postel, yang juga diperlakukan sebagai hari ulang tahun kedua perusahaan. Sampai tibalah hari bersejarah itu, Jumat 23 Oktober 2009, Telkom melakukan grand launching penetapan tanggal tersebut sebagai hari jadinya yang baru, ulang tahun ke 153. Dikatakan bahwa pada 23 Oktober 1856 telah dimulai pengoperasian layanan jasa telegraf elektromagnetik pertama yang menghubungkan Batavia (Jakarta) dengan Buitenzorg (Bogor). Peristiwa itu dianggap menjadi “tonggak sejarah” berdirinya PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.
Seakan tak mau kalah dengan saudara kembarnya, pada 26 Agustus 2011 tahu-tahu Posindo mengumumkan perusahaan itu pun sudah punya hari ulang tahun sendiri. Tidak tanggung-tanggung, hari itu Posindo dinyatakan telah berusia 265 tahun! (padahal tahun sebelumnya baru merayakan ulang tahun ke-65 lho). Alasannya, layanan pos yang menjadi “tonggak sejarah” berdirinya Pos Indonesia telah berlangsung 265 tahun yang lalu atau tepatnya tanggal 26 Agustus 1746 dengan didirikannya kantorpos pertama di Batavia oleh Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron Van Imhoff. Itulah kantor pos pertama di Hindia Belanda (sampai kini gedung kantor pos pertama itu masih berdiri. Letaknya di Galangan Kapal Batavia, depan Museum Bahari, Pasar Ikan, Jakarta Utara).
Mimpi Matt Kardun
Sementara Telkom dan Posindo mengklaim sudah berdiri jauh sebelum kemerdekaan RI, sejawat mereka PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) bangga memilih 27 Oktober 1945 sebagai hari kelahirannya. Artinya, untuk urusan ulang tahun perusahaan, PLN belum merasa perlu mengacu kapan ketenagalistrikan digelar pertama kali di negeri ini.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) pun hingga kini merasa nyaman dengan 28 September 1945 sebagai hari lahirnya. Perusahaan pelat merah ini belum punya niatan untuk merujuk pada kehadiran kereta api pertama di Hindia Belanda pada 10 Agustus 1867, saat ruas jalan kereta api dari desa Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 km ini dibuka untuk angkutan umum oleh pemerintahan di bawah Gubernur Jenderal Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele.
Tapi seperti kata almarhum Cacuk Sudarijanto, yang tetap di dunia ini adalah perubahan. Sesuai kebutuhan, suatu organisasi menetapkan dan bisa mengubah visi, misi, logo, kredo/ tagline dan kalau perlu tanggal lahirnya juga. Maka bukan mustahil, suatu saat nanti bisa saja fenomena menggeser maju tahun kelahiran ala Telkom-Posindo membuat manajemen PLN serta KAI tergoda untuk memilih hari ulang tahunnya yang baru, yang dapat menjadikannya lebih tua dari umurnya sekarang. Atas nama “tonggak sejarah”, sah-sah saja bukan?
Tersebutlah Matt Kardun, insan Telkom sejak zaman Perumtel yang sekarang jadi member P2TEL. Dia justru bermimpi, dirinya ambil bagian pada sebuah polling bersama sejumlah besar insan di Telkom dan Posindo, termasuk para pensiunannya. Ditanyakan kepada responden, mana yang dianggap lebih pas untuk dijadikan hari ulang tahun Telkom dan Posindo? Dalam mimpinya itu, ternyata responden yang memilih 27 September lebih banyak daripada yang memilih tanggal lain yang berpatokan kepada kehadiran sarana pos dan sarana telekomunikasi di zaman voor de oorlog.
Kelanjutan dari mimpi itu ialah, Matt Kardun hadir di tengah banyak orang yang mengikuti serangkaian event bertajuk “Hari Telekomunikasi” 23 Oktober. Peristiwa digelarnya fastel pertama pada 1856 itu diperingati dengan cukup khidmat oleh instansi terkait bersama sejumlah perusahaan, LSM dan komunitas pertelekomunikasian lainnya.
Dirgahayu “Hari Telekomunikasi” 23 Oktober 2012.
(tri w. qusyairi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s