Tes Mamografi Malah Menyebabkan Kanker

Standar

TEMPO.CO, London – Buat sebagian perempuan, tes mamogram atau mamografi penting dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara. Namun, siapa sangka alat pendeteksi kanker ini justru memperbesar risiko kemunculan kanker, khususnya pada perempuan muda.

Radiasi tambahan yang berasal dari tes mamografi dan jenis tes kanker payudara lainnya malah dapat merusak gen. Para dokter di Inggris dan Amerika lebih menyarankan agar deteksi kanker payudara menggunakan MRI. Tes MRI dianggap sebagai prosedur deteksi paling aman bagi perempuan di bawah 30 tahun.

Meskipun sampai saat ini belum ada satu penelitian pun yang bisa membuktikan kaitan antara kanker payudara dan mamografi, isu inilah yang sedang hangat-hangatnya dibahas di dunia kesehatan Barat sekaligus dipublikasikan dalam jurnal kesehatan dunia, British Medical Journal, Kamis, 6 September 2012.

“Hasil paparan ini akan menimbulkan banyak pertanyaan dan sanggahan terhadap cara pengobatan bagi perempuan yang mengalami mutasi gen,” kata dokter Len Lichtenfeld, Kepala Deputi Kesehatan Perkumpulan Kanker Amerika. Kebetulan Lichtenfeld tidak ikut dalam penelitian dampak mamogram terhadap pertumbuhan kanker.

Mamografi adalah tes yang paling sering dijalani perempuan di bawah usia 40 tahun untuk mendeteksi kanker walaupun tes ini berisiko untuk menimbulkan kanker. Mamografi diketahui dapat memutasi gen jenis BRCA1 atau BRCA2. Mutasi kedua gen itu dapat memperbesar risiko kanker sebanyak lima kali lipat. Padahal, sekitar 1 di antara 400 orang perempuan memiliki gen yang abnormal. Di lain pihak, MRI atau Magnetic Resonance Imaging menjadi lebih aman karena tidak melibatkan radiasi dalam penggunaannya.

Deteksi dini kanker payudara banyak menyelamatkan perempuan di bawah umur 50 tahun untuk terhindar dari kanker ini. Deteksi awal kanker juga mampu menyelamatkan perempuan di usia pertengahan dari kanker payudara.

Beberapa ahli kesehatan menyarankan sebaiknya perempuan yang memiliki gen sensitif dan mudah berubah tidak menggunakan prosedur deteksi kanker yang melibatkan radiasi. Sebab, jenis gen seperti itu mudah sekali rusak dengan paparan sinar radiasi. Karena tidak mudah memperbaiki kerusakan gen dengan jenis seperti ini, maka kanker mudah sekali terjadi.

Dalam penelitian yang dilakukan British Medical Journal (BMJ) terhadap 2000 perempuan di atas 18 tahun ditemukan fakta bahwa perempuan 30 tahun yang memiliki gen mudah bermutasi akan terkena kanker payudara di usia 40 tahun. Parahnya, setiap perempuan yang melakukan tes deteksi kanker payudara di bawah umur 20 tahun ternyata dapat terkena kanker di umur 43 tahun.

“Karena itu, kami meyakinkan setiap negara yang menggunakan mamografi dalam pemeriksaan perempuan di bawah 30 tahun harus mempertimbangkan lagi petunjuk mereka,” ujar Anouk Pijpe dari Institut Kanker Belanda yang merupakan salah satu peneliti di BMJ. “Kami percaya lebih aman menggunakan MRI dari pada mamografi. Karena itu, pertimbangkan sekali lagi. Baik sebagai pasien maupun sebagai dokter,” kata Pijpe.

CHETA NILAWATY | BRITISH MEDICAL JOURNAL | BOSTON.COM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s