KISAH CLEOPATRA VII YANG GENIT

Standar

BELAJAR SEJARAH…(Agus Suryono)

Nama Ratu Cleopatra di Mesir ada beberapa orang. Tetapi yang namanya terkenal sampai sekarang, sebenarnya adalah Cleopatra VII. Ayahnya adalah raja Mesir bernama Ptolemeus XII, sedangkan ibunya bernama Cleopatra V.
Cleopatra lahir Januari 69 SM (sebelum masehi) dan meninggal 12 Agustus 30 SM.
Siapa suaminya? Sesuai dengan adat Mesir saat itu, pada saat ia berusia 18 tahun dinikahkan dengan adiknya yaitu Ptolemeus XIII yang saat itu baru berusia 12 tahun, dan memerintah Mesir bersama-sama. Namun dalam realitasnya, dia lebih dominan dalam pemerintahan, karena memang lebih tua. Karena itu kemudian ada kudeta yang dilakukan oleh para pendukung adiknya.
Semasa kecil, Cleopatra telah melihat persengketaan dalam keluarganya sendiri. Dikatakan bahwa ayahnya selamat dari 2 usaha pembunuhan ketika seorang pelayan menemukan ular berbisa yang mematikan di tempat tidurnya dan pelayan yang mencicipi minuman anggur meninggal. Kakak perempuan tertuanya, Tryphaena juga mencoba untuk meracuni Cleopatra sehingga ia mulai menggunakan juru cicip. Ketika ia berusia belasan tahun, ia menyaksikan kejatuhan ayahnya sendiri dan kemudian Mesir menjadi jajahan Kekaisaran Romawi akibat beban utang yang terlalu tinggi.
Pada tahun 58 SM, ibunya, Cleopatra V mengambil alih pemerintahan bersama anaknya, Berenice IV dengan bantuan gubernur Suriah yang dikuasai Romawi, Aulus Gabinius selama setahun hingga ibunya meninggal, lalu Berenice IV memerintah sendiri. Ptolemeus XII menggulingkan anak perempuan tertuanya pada tahun 55 SM dan menghukum mati anaknya, Berenice IV. Kakak perempuan Cleopatra lainnya, Tryphaena mengambil tahta dan tidak lama kemudian ia meninggal yang menyisakan Cleopatra dan adiknya, Ptolemeus XIII sebagai penerus tahta.
Pada bulan Agustus tahun 51 SM, mencoba menyingkirkan peran adik yang sekaligus juga suaminya dari peran pemerintahan, antara lain dengan cara hanya memunculkan wajahnya sendiri dalam mata uang Mesir. Hal ini menyebabkan munculnya kelompok rahasia, dipimpin oleh Eunuch Pothinus, yang ingin menurunkan Cleopatra dari kekuasaan dan menjadikan adiknya yang juga suaminya menjadi raja pada tahun 48 SM. Ia mencoba untuk melawan adik sekaligus suaminya itu, tetapi gagal, dan kemudian terpaksa melarikan diri dari Mesir ke Romawi.
Karena kecantikannya, di tempat pelarian, Cleopatra kemudian bisa membuat Raja Romawi, Julius Caesar, tergila-gila kepadanya (cantik sih…). Selain urusan cinta, ini juga perkawinan politik. Dengan bantuan Julius Caesar, ia kemudian bisa merebut kembali kekuasaannya di Mesir pada tahun 48SM, dan memerintah bersama adiknya yang lain, yaitu Ptolemeus XIV.
Walaupun perbedaan umur Cleopatra dan Julius Caesar sebesar 30 tahun, Cleopatra dan Caesar menjadi kekasih selama Caesar berada di Mesir untuk membantunya mengembalikan Cleopatra sebagai ratu Mesir, tahun 48 SM sampai 47 SM. Padahal mereka bertemu ketika Cleopatra berusia 21 tahun dan Caesar berusia 50 tahun atau selisih 29 tahun.
Pada tanggal 23 Juni 47 SM, Cleopatra melahirkan Ptolemeus Caesar (disebut “Caesarion” yang berarti “Caesar kecil”). Cleopatra mengklaim Caesar sebagai ayahnya dan berharap untuk menjadikan anak itu sebagai ahli waris, tetapi Caesar menolak dan lebih memilih cucu lelakinya, yaitu Octavian.
Caesarion, dalam skenario Cleopatra, sebenarnya dimaksudkan untuk mewarisi Mesir dan Romawi, menyatukan timur dan barat (lagi2 pertimbangan politik juga, meski mungkin juga ada cinta di dalamnya…)
Cleopatra dan Caesarion mengunjungi Roma pada tahun 47 SM sampai tahun 41 SM dan hadir ketika Caesar dibunuh pada tanggal 15 Maret 44 SM. Sesudah pembunuhan, ia kembali ke Mesir. Ketika Ptolemeus XIV yang sama-sama memerintah di Mesir akhir meninggal karena kesehatannya memburuk, Cleopatra menjadikan Caesarion penerusnya.
Pada tahun 42 SM, Mark Antony, salah satu orang yang berkuasa di Roma setelah kematian Caesar, memanggil Cleopatra untuk bertemu dengannya di Tarsus untuk menjawab pertanyaan kesetiaannya kepada Romawi sambil membawa “glondong pengareng-areng”.
Cleopatra yang genit tiba, selain membawa glondong pengareng-areng juga membawa cinta, dan memikat Antony yang menyebabkan Anthony menghabiskan musim dingin tahun 41 SM–40 SM berduaan dengannya selama 2 tahun.
Pada tanggal 25 Desember 40 SM, ia melahirkan anak kembar, yaitu Alexander Helios dan Cleopatra Selene II, tentunya bibitnya dari Mark Antony.
Empat tahun kemudian, tahun 37 SM, Antony mengunjungi Cleopatra di Mesir untuk membantu memerangi pemberontakan di Mesir, yaitu pemberontakan oleh Parthian. Ia memperbarui hubungannya dengan Cleopatra, dan menikahi Cleopatra secara adat Mesir, dan kemudian Cleopatra melahirkan anak lagi, yaitu Ptolemeus Philadelphus. Cleopatra benar-benar jatuh cinta kepada Antony… Cinta setengah mati…
Sikap Antony yang membantu Mesir dengan tentara dan APBN Romawi menyebabkan terjadinya pemberontakan di Romawi. Mark Anthony kemudian bunuh diri karena terdesak.
Setelah melihat Antony bunuh diri, Cleopatra VII menyusul, juga melakukan bunuh diri, yaitu dengan membiarkan dirinya digigit ular berbisa yang diselipkan kedalam bakul berisi buah ara.
Anak Cleopatra, Caesarion mengklaim sebagai pharaoh Mesir (mungkin maksudnya firaun ya…, saya juga nggak tau), tetapi Octavian menang lebih dulu. Caesarion ditangkap dan dieksekusi, takdirnya dilaporkan dikunci oleh perkataan terkenal Octavian: “Dua Caesar terlalu banyak…..”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s