Lawan LUPUS dengan Semangat Hidup

Standar

Tyara Savitri menjadi penderita lupus selama 25 tahun. Namun penyakit berupa alergi terhadap dirinya sendiri itu tidak menghentikan semangatnya untuk terus berkarya. Perempuan 44 tahun ini terus berjuang menyemangati odapus (sebutan penderita lupus, Red.) lain, untuk terus bertahan hidup menghadapi penyakit mematikan ini.
“Pada waktu itu, tahun 1996, lupus menyerang ginjal saya hingga akhirnya bocor. Waktu itu doker bilang bahwa peluang kesembuhan saya hanya 20 persen. Dokter lalu berpesan. Kalau saya sembuh nanti, saya harus share (berbagi, Red.) pengalaman saya dengan penderita lainnya. Atas dasar itulah saya mendirikan Yayasan Lupus Indonesia,” ujar Tyara, saat konferensi pers tentang penyakit lupus, di Oemah Sendok, Jakarta, Kamis (8/3).
Yayasan Lupus Indonesia (YLI) didirikan pada 17 April 1998, untuk mengenalkan apa itu penyakit lupus, sekaligus menjadi wadah para odapus untuk berbagi dengan sesamanya.
Lupus adalah suatu penyakit autoimun, bahkan tubuh memberikan imunitas berlebihan. Pada lupus, tubuh dapat membuat antibodi yang sifatnya bukan melindungi, melainkan merusak organ tubuh itu sendiri. Kata “lupus” sendiri memiliki arti “serigala” (bahasa Latin).
Tyara menderita lupus sejak 1987, saat ia baru lulus SMA. Menurutnya, pada masa itu informasi tentang lupus sangat minim. “Yang saya tahu waktu itu, saya sakit lupus, dan dokter bilang saya harus minum obat seumur hidup,” terang Tyara.
Tyara mengaku sangat sedih melihat kurangnya perhatian pemerintah dan minimnya pengetahuan masyarakat, tidak seperti layaknya pada penyakit kronik lainnya, seperti kanker atau AIDS. “Perhatian sih sebenarnya ada. Tapi memang bukan menjadi prioritas,” ujarnya.
Menurut Tyara, YLI pernah mengunjungi sebuah tempat di Jakarta Utara setelah mendengar kabar ada penderita lupus di wilayah tersebut. Ketika ia dan YLI bertanya kepada masyarakat di sana, ternyata sudah tujuh anak penderita lupus yang meninggal. Keluarga penderita tidak membawanya berobat ke rumah sakit karena tidak memiliki biaya. Mereka memilih berobat kepada dukun dan “orang pintar”.
Tyara mengakui, YLI bukanlah badan besar yang mampu menaungi semua penderita lupus di Indonesia. Namun, melalui beberapa programnya, YLI dapat membantu meringankan beban pengobatan, dari segi perawatan dan obat.
“Waktu itu saya dan tim pernah membantu pengobatan seorang anak penderita lupus selama hampir dua bulan,” katanya. Ia juga berpesan kepada orang itu, “Tidak perlu mengganti, cukup dengan tetap bersemangat untuk menjalani hidup”.
“Yang paling penting adalah semangat hidup. Waktu saya hamil, lupus saya kambuh. Tetapi saya punya semangat demi anak saya di kandungan. Karena itulah saya bisa bertahan,” ujar Tyara.
Ia menambahkan, pikiran senang dan positif membantunya untuk selalu merasa sehat. Tyara juga mengaku tetap lancar untuk menjalai aktivitas sehari-hari. [WS]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s