Entertain dan Esensi: Bisakah Keduanya Ada di Artikel Blog?

Standar

By Dendy Darin | Published: 07/03/2012
Dalam beberapa hari ini badan saya kurang enak. Entah, apa karena terlalu memaksa diri lembur tiap malam tuk menyelesaikan laporan pekerjaan atau memang sayanya yang kurang memperhatikan kondisi tubuh, hmm.. but it’s ok, saat ini fikiran saya sudah lumayan ‘agak sehat’ tuk menulis *hehe*
Hanya karena itu? No. Saya sangat bersemangat sekali menulis setelah membaca post dari Jamil Azzaini di TrainerLaris.com yang membahas tentang pentingnya faktor Entertain (hiburan) dan Esensi (makna) pada sesi training.
Benar juga. Pernah saya mengikuti sebuah training/pelatihan yang sangat teknis, host-nya begitu menguasai bahan pelatihan dan cukup interaktif. Namun suasananya – kalau tidak mau dibilang membosankan – begitu kaku, hingga tak jarang dalam beberapa saat ada saja peserta yang ke belakang hanya untuk membasuh muka, minum kopi, atau bahkan merokok tuk meredakan ketegangan.
Di kesempatan lain, ada juga sesi pelatihan yang gegap gempita, sangat menghibur, pembawa acaranya sering melemparkan joke-joke yang menyegarkan atmosfir, tapi setelah beberapa waktu akhirnya tersadar bahwa training telah usai, saya pulang dengan perasaan kosong sembari bertanya-tanya: eh, training tadi membahas apa ya?
Entertain dan esensi di ranah media
Kalau kita cermati, media-media televisi pun sepertinya telah memadukan dua faktor ini. Tengok saja acara Jakarta Lawyers Club. Meski topik yang dibicarakan adalah isu-isu nasional dan yang hadir di sana adalah tokoh-tokoh serius, konsep acaranya betul-betul menghibur.
Yang paling gres adalah hadirnya koki-koki masak semisal Farah Quinn. Bila menonton acara itu kita tak hanya disuguhi resep-resep makanan dan minuman yang menggugah selera, tapi juga dibandrol dengan sosok host-nya yang enak dipandang bak selebriti. Juga jangan lupa, acara Kick Andy Show yang selalu jadi favorit saya.
Dan pandangan sangat berbeda hadir ketika kita menonton OVJ yang memang di-setting 100% sebagai hiburan, kita tak akan mendapat esensi apa-apa kecuali – mungkin – badan yang sehat karena sering ketawa terguncang-guncang. Atau, diskusi editorial sebuah koran yang selalu muncul tiap pagi hari. Kita akan mendapat asupan wawasan bagus meski tanpa merasa terhibur sama sekali.
Saya ngga tau dengan acara-acara mistis atau reality show, itu menghibur atau memberi makna ya? *mikir*
Bagaimana dengan blogging?
Secara tak sadar mungkin kita selalu menilai saat selesai membaca sebuah artikel blog. Ada yang sangat teknis, ada juga yang sangat menghibur. Saya rasa sangat lumrah, karena kita – sebagai pembaca – datang dari beragam latar belakang dan artikel yang kita baca ditulis oleh blogger yang memilliki latar belakang masing-masing pula.
Artikel kemarin yang berjudul Ketika Blogger Menjadi Sangat Emosional menjadi bukti nyata bagaimana perbedaan cara pandang saya sebagai penulis dengan Anda yang membacanya.
Yah, itulah asyiknya ngeblog. Kita akan mendapat feedback dalam waktu yang singkat dan langsung muncul di bawah artikel yang dimaksud. Bandingkan jika kita – misalnya – menulis buku, tanggapan yang datang mungkin muncul setelah beberapa waktu. Itupun tak real-time, alias tanggapan-tanggapan berdatangan lewat email, forum, milis atau acara-acara bedah buku.
Ok, kembali ke masalah entertain dan esensi, apa yang ditulis oleh Pak Jamil Azzaini di atas saya rasa berlaku juga saat kita berurusan dengan dunia blogging. Ya, sebagai penulis, kita tentunya ingin menghibur pembaca yang telah sudi datang, namun kita juga berkewajiban untuk memberi makna/pencerahan pada artikel yang kita tulis, kan?
Saya tahu, ini sepertinya naif. Tapi dari permasalahan entertain dan esensi yang dikemukakan oleh salah satu motivator kondang itu sontak membuat saya berfikir, apakah saya sudah memadukan kedua hal tersebut di setiap postingan di blog ini ya? Hmm, sepertinya jauh panggang dari api *haha*
Bagaimana, Anda punya pendapat? Share, please.

2 responses »

  1. menurut aku : dalam sebuah tulisan, entertain dan esensi kynya aga sedikit berbeda, mereka punya porsinya masing2….berbeda dengan media televisi, secara zaman sudah buat orang2 jd STRES, jd entertain n esensi kynya memang hrs beriringan alias berdampingan klo bhs zaman dulu SERSAN (Serius tp Santai),,,,,bisa memberi makna tp menghibur

  2. iya tetapi menulis mesti punya tujuan untuk dibaca nah disini masuk teknik menulis agar menyajikan tulisan yang entertain supaya lebih mudah dipahami makna atau tujuan tulisan coba bayangkan sekarang ini semua perlu entetain sampai ke pemerintahan coba kita renungkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s